Amalan #1

BACK

Taubat Pembuka Rezeki

Ibnul Qayyim membagi istighfar menjadi dua macam; istighfar semata (tanpa diiringi dengan tobat), seperti ucapan Nabi Nuh a.s dalam surat Nuuh ayat 10 di atas, dan ucapan Nabi Saleh a.s :“Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (An‐Naml [27]: 46)

Dan Firman Allah Swt : “Dan Allah sekali­kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al‐Anfaal [8]: 33)

Sedangkan istighfar yang kedua, adalah istighfar yang diiringi dengan tobat kepada Allah, seperti firman‐Nya : “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada­Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus­menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap­tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (Huud [11]: 3)

Sebagaimana ucapan Nabi Hud a.s kepada kaumnya, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada­Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Huud [11]: 52)

Contoh istighfar jenis ini diperkuat dengan ucapan Nabi Saleh a.s pada surat yang sama kepada kaumnya :

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunanNya kemudian bertobatlah kepada­Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat­Nya) lagi memperkenankan (doa hamba­Nya).” (Huud [11]: 61)’

Begitu pula ucapan Nabi Syu’aib a.s :

“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada­Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (Huud [11]: 90)

Hakikat istighfar adalah agar terhindar dari kejelekan dosa. Ini sama dengan kata mughfir, yaitu sesuatu yang dipakai melindungi kepala dari kotoran. Karena itu, makna ‘tertutup’ sudah masuk dalam kata istighfar. Bila tidak demikian, maka sorban, topi dan semacamnya tidak disebut sebagai mughfir dalam bahasa Arab. Oleh karenanya, kata mugfir harus mengandung pengertian pencegahan dan melindungi. Istighfar inilah yang dapat mencegah turunnya azab. Allah Swt berfirman, :

“Dan Allah sekali­kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al‐Anfaal [8]: 33)

Allah Swt tidak menurunkan azabnya kepada orang yang beristighfar. Seseorang yang terus‐menerus melakukan perbuatan dosa, namun di samping itu ia juga beristighfar, maka hal tersebut tidak dinamakan istighfar sama sekali, dan tidak bisa menghindarkannya dari datangnya azab. Oleh karena itu, istighfar mengandung arti taubat, begitu pun sebaliknya taubat mengandung istighfar. Kedua kata tersebut saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.

Arti maghfirah (ampunan) adalah bersihnya jiwa dari segala dosa. Sedangkan taubat adalah memperoleh hasil yang diinginkan setelah melalui proses istighfar. Meski pengertiannya terpisah, namun keduanya memiliki kaitan yang sama. [Madarij as­Salikin 1/307‐309]

KEMUDAHAN HIDUP

Dalam menjalani kehidupan ini, sering kali kita dihadapkan pada kesulitan. Terkadang kesulitan yang datang teramat berat, sehingga membuat kita hampir putus asa. Namun, keimanan akan kuasa Allah SWT yang tak terhingga mampu menjadikan diri kita tetap bersabar dalam menghadapi kesulitan.

Oleh sebab itu, Allah SWT menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat muslim. Sehingga diharapkan kita sebagai hamba-Nya mampu mengatasi kesulitan yang terjadi. Di dalam ayat-ayat Al-Quran tersimpan rahasia-rahasia kehidupan yang perlu kita pelajari. Selain itu, Al-Quran mengajarkan kita cara untuk mendapatkan kemudahan dan jalan keluar dari segala kesulitan yang terjadi. Allah SWT berfiman di dalam Quran surat Al-Lail: 5-7:

فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى -٥- وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى -٦- فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى -٧-

“Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan”.

Menurut ayat-ayat tersebut, dijelaskan ada 3 cara untuk meraih kemudahan dan jalan keluar dari Allah SWT, yakni:

  1. Berinfak di jalan kebaikan.
  2. Bertakwa dan takut kepada-Nya.
  3. Membenarkan setiap yang datang dari Allah SWT dengan keyakinan dan tindakan.

Jika 3 hal tersebut telah kita lakukan, maka Allah SWT berjanji akan memberikan kemudahan tersebut. Dan sunguh, dia lah sebaik-baik dzat yang menepati janji.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya” (QS. At-Thalaq:4).

وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ

“(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya” (QS. Ar-Rum:6).

Sumber: Khazanahalquran.commiracle_allahu

%d blogger menyukai ini: